Otoritas dan Kaidah Matematis: Refleksi Atas Perayaan Idulfitri 1432 H (Tanggapan Atas Kritik Thomas Djamaluddin)

 (Oleh: Prof. Dr. H Syamsul Anwar, MA. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Alhamdulillah hari raya Idulfitri 1432 H telah dapat dirayakan dengan khidmat. Walaupun ada perbedaan tentang hari jatuhnya Idulfitri itu, di mana pada satu sisi ada yang menjatuhkannya pada hari Selasa 30 Agustus 2011 dan di sisi lain ada yang menjatuhkannya pada hari Rabu 31 Agustus 2011, namun masing-masing pihak telah dapat menjalankannya dengan damai dan rukun, tanpa terjadi pertikaian antara pihak-pihak yang merayakannya pada hari berbeda itu. Bahkan masyarakat umum yang tidak begitu memahami sumber masalah perbedaan itu dapat memilih hari yang mereka inginkan untuk beridulfitri.

 

Akan tetapi meskipun Idulfitri telah berjalan dengan damai dan rukun, tetap saja tersisa permasalahan yang timbul dari perbedaan itu. Tidak dipungkiri bahwa perbedaan jatuhnya hari raya itu adalah suatu ketidaknyamanan karena ada ketidakbersamaan kaum Muslimin dalam merayakannya. Di satu sisi ada yang saling kunjung ke rumah tetangga dan makan-makan, sementara yang lain masih berpuasa. Namun juga harus diakui bahwa penyatuan jatuhnya hari Idulfitri itu tidak gampang, tidak semudah sepasang remaja bikin janji ke pantai bersama, “Mas Minggu besok rekreasi bareng ya di pantai, soalnya habis ujian semester pikiranku buntet banget, perlu refreshing.”  “Ya, setuju, aku juga sama. Dah, besok kuampiri ya!”  Selesailah masalah. Kesepakatan untuk “rekreasi Minggu besok” tidak memerlukan pertimbangan ilmiah yang mendalam karena itu hanya soal selera dan bisa diputuskan dengan prinsip “setuju-setuju saja”. Namun tentu tidak demikian halnya dengan penentuan jatuhnya hari raya semisal Idulfitri atau Iduladha. Masalah ini bukan soal selera. Masalah ini memerlukan suatu kajian panjang dan mendalam baik dari segi ilmu syariah maupun dari segi ilmu astronomi. Keputusan itu tidak dapat diambil berdasarkan prinsip “setuju-setuju saja”. Ini semua tentu menjadi tantangan para ilmuwan terkait baik dari bidang syariah maupun astronomi.

 

Diskusi mengenai masalah ini cukup ramai. Dan dalam diskusi yang ramai itu ada pakar yang langsung menyalahkan Muhammadiyah karena terlalu jumud berpegang kepada hisab wujudul hilal (walaupun Muhammadiyah juga dapat mengatakan hal yang sama bahwa pihak lain terlalu kaku berpegang kepada rukyat atau hisab imkanur rukyat 2 derajat yang tidak ilmiah itu). Dikatakan, “sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal.”  Dikatakan lagi, “Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat.  Tentu saja mereka [adalah] anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.” “Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.”

 

Tampaknya nada statemen ilmuwan tersebut sangat memihak dan sedikit emosional juga terasa ada semacam (dengan bahasa diperhalus) “kebanggaan” tersembunyi atas status sebagai astronom senior. Seolah-olah apa yang berjalan sekarang ini, itulah yang betul dan karena itu tidak dikritik. Justeru yang mengkritik dan menolak, dalam hal ini Muhammadiyah, adalah pihak yang harus dipersalahkan sebagai biang keladi permasalahan. Dalam sejumlah tulisan pakar bersangkutan, penulis belum menemukan kritik-kritiknya terhadap penetapan awal bulan kamariah yang berlaku sekarang, kecuali kritik terhadap kriteria yang dipakai sebagian ormas seperti Muhammadiyah. Juga disayangkan pakar bersangkutan belum pernah menyarankan satu rancangan kalender pemersatu yang pasti padahal di tangannya terdapat perangkat ilmu untuk itu.

 

Apakah orang Muhammadiyah sangat fanatik terhadap hisab wujudul hilal? Hal itu mungkin saja demikian, tetapi jelas tidak semuanya. Tentu banyak ahli-ahli falak Muhammadiyah yang juga mengerti hisab yang lain dan dapat membandingkannya dan kemudian dari hasil perbandingan itu menjatuhkan pilihan pada hisab wujudul hilal. Penulis sendiri adalah warga Muhammadiyah (dengan bidang studi syariah, bukan astronomi) yang tentu secara emosional akan sangat bersimpati dengan kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah. Tetapi di sini penulis tidak ingin membela hisab wujudul hilal. Hisab wujudul hilal hanyalah salah satu metode hisab penentuan awal bulan di antara sekian metode hisab yang ada. Walaupun demikian tentu boleh memberi pendapat. Cuma memang pasti akan dirasakan sebagai sebuah pendapat apologis karena diberikan oleh orang yang secara emosional adalah bagian daripadanya. Namun demikian silahkan pembaca untuk melihatnya secara obyektif saja.

 

Kalau soal usangnya, munurut penulis, hisab wujudul hilal tidak usang-usang banget. Hisab ini merupakan perkembangan dari hisab-hisab sebelumnya yang dirasa tidak dapat memberikan kepuasan. Di Arab Saudi, hisab wujudul hilal dipakai oleh Pusat King Abdul Aziz untuk Pengembangan Sains dan Teknologi, yang bertanggungjawab atas penyusunan kalender resmi pemerintah Arab Saudi Kalender Ummul Qura yang berkembang luas di berbagai bagian dunia termasuk digunakan oleh Windows Vesta, baru pada tahun 1424 H (baru sejak 7 tahun lalu) karena kasus bulan Rajab 1424 H (Agustus 2003). Sampai saat itu kaidah kalender yang digunakan adalah moonset after sunset (artinya bahwa apabila pada sore hari ke-29 bulan berjalan, bulan terbenan sesudah terbenamnya matahari, maka malam itu dan keesokan harinya adalah bulan baru). Namun ternyata kaidah kalender tersebut mengalami problem dengan “hilal” Rajab 1424 H pada sore Rabu 27 Agustus 2003 M. Pada sore itu matahari terbenam di Mekah (Kakbah) pukul 18:45 Waktu Saudi dan bulan terbenam 8 menit kemudian, yakni pukul 18:53 Waktu Saudi. Jadi kriteria bulan baru telah terpenuhi, yaitu bulan tenggelam sesudah tenggelamnya matahari, sehingga mestinya malam Kamis 28 Agustus 2003 M dan keesokan harinya (Kamis 28 Agustus 2003 M) adalah tanggal 1 Syakban 1424 H. Tetapi ternyata saat matahari terbenam sore Rabu 27 Agustus 2003 itu belum terjadi ijtimak (konjungsi) karena ijtimak terjadi hampir dua jam kemudian, yakni pukul 18:26 Waktu Saudi. Karena kasus ini, para penanggung jawab kalender Ummul Qura memperbaiki kaidah kalendernya dengan menambahkan satu parameter baru, yakni saat matahari terbenam harus sudah terjadi ijtimak. Sejak saat itu kemudian kalender Ummul Qura memakai wujudul hilal. Jadi ini adalah perkembangan dari metode sebelumnya yang dirasa tidak memuaskan.

 

Di dalam Muhammadiyah hisab wujudul hilal sudah digunakan sejak abad yang lalu. Sejak penulis mulai masuk menjadi pengurus Muhammadiyah tahun 1985 di PMW DIY dan sejak tahun 1990 di Pimpinan Pusat, hisab ini sudah dipakai dan terus berlaku hingga sekarang. Ada perubahan, namun hanya perubahan cara menghitung, bukan perubahan kriteria (kaidah memulai bulan baru). Harap dibedakan antara kaidah memasuki bulan baru dan metode perhitungan. Kaidah memasuki bulan baru dalam hisab wujudul hilal adalah tiga parameter yang kita semua sudah tahu, yaitu (1) telah terjadi ijtimak, (2) ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, (3) saat matahari terbenam hilal di atas ufuk. Kriteria ini adalah suatu kriteria yang sifatnya non penampakan, karena itu tidak memerlukan observasi untuk mengujinya seperti halnya peristiwa ijtimak dan terbenamnya matahari tidak diobservasi. Kalau diragukan akurasi kriteria ini, jangan-jangan bulan sebetulnya di bawah ufuk, namun diklaim di atas ufuk karena kurang akurasinya perhitungan, maka ini bukan soal kriteria itu sendiri, melainkan ini adalah soal akurasi metode menghitung posisi bulan. Metode menghitung ini bisa terus menerus diperbaiki. Dalam praktik wujudul hilal di Muhammadiyah metode menghitung ini mengalami perkembangan dalam hal daftar ephemeris yang menjadi sumber data benda langit pada waktu tertentu yang digunakan. Di Zaman Kiyai Wardan, sebagaimana disebutkannya dalam bukunya Hisab Urfi dan Hakiki, digunakan daftar yang diambilnya sebagian dari kitab al-Mathla’ as-Sa’id fi Hisabat al-Kawakib ‘ala ar-Rashd al-Jadid dan dari Zij Aala’uddin Ibn Syathir, kemudian pada zaman Sa’duddin Dajmbek digunakan digunakan nautical almanac, lalu terakhir digunakan Ephemeris Hisab Rukyat.Bahkan rumus hitungannya pun terbuka untuk dikoreksi tanpa mengubah kaidah memasuki bulan baru itu sendiri. Kalau metode hitung ini juga mau diuji secara empiris pun bisa dilakukan tanpa mengubah kriterianya. Ketika hilal dihitung dengan metode ini ternyata tingginya adalah 6 derajat seperti jelang Ramadan lalu, maka silahkan diuji melalui observasi apa memang betul tingginya 6 derajat. Kalau betul, berarti hitungan itu akurat atau mendekati akurat. Kalau tidak, berarti metode menghitungnya harus diperbaiki tanpa mengubah kaidah bulan baru itu sendiri. Jadi alasan bahwa hisab wujudul hilal lemah karena tidak dapat diuji secara empiris adalah tidak relevan. Apa yang dikemukakan di atas adalah suatu pendapat, tidak bermaksud memberikan apologi terhadap keunggulan wujudul hilal. Silahkan pembaca menilainya.

 

Penulis juga ingin mengajak pembaca untuk melihat suatu yang menurut penulis adalah hal positif dalam kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah itu. Tetapi ini mungkin sekali lagi terasa sebagai sebuah apologi karena dikemukakan oleh orang yang merupakan bagian dari sistem bersangkutan. Tetapi tujuan penulis di sini tidak hendak berapologi. Hanya ingin mengemukakan pendapat. Ini tentu sah-sah saja, dan sekali lagi silahkan pembaca melihatnya secara obyektif saja. Hal positif dimaksud adalah bahwa dalam kebijakan penetapan awal bulan Muhammadiyah itu terkandung suatu nilai edukasi bagi masyarakat luas bahwa suatu sistem penanggalan yang baik adalah suatu sistem kalender yang dapat memberikan penjadwalan waktu yang akurat dan pasti jauh ke depan sehingga bisa dipedomani jauh-jauh hari sebelumnya. Sistem yang tidak dapat memberikan penjadwalan waktu (hari/tanggal) yang pasti jauh ke depan adalah suatu sistem yang buruk dan bertentangan sifat sebagai sebuah kalender yang terstruktur secara seksama, bahkan bertentangan dengan maksud dari kalender itu sendiri. Sistem kalender bertujuan untuk memudahkan masyarakat penggunanya merencanakan kegiatannya disesuaikan dengan sistem penjadwalan waktu yang dimilikinya. Untuk itu sistem waktu tersebut harus akurat dan pasti agar rencana kegiatannya tidak menjadi berantakan akibat sistem waktu yang tidak pasti. Suatu sistem penanggalan yang akurat dan bagus harus dapat menjadwalkan waktu secara pasti ke depan dan harus dapat dilacak secara pasti pula jadwal waktunya di masa lalu. Untuk itu penetapan jadwal waktu itu harus lahir dari kaidah matematis kalender itu sendiri tanpa campur tangan otoritas luar mana pun selain dari kaidah kalender tersebut. Apabila setiap penetapan momen penting ditentukan oleh suatu otoritas lain di luar kaidah matematis kalender itu sendiri, maka kita akan menghadapi penjadwalan waktu yang tidak pasti karena jawal waktu tersebut akan sangat tergantung kepada ketetapan yang akan dikeluarkan pada detik-detik akhir menjelang saat dimulainya momen bersangkutan. Sebaliknya juga kita tidak dapat melacak jadwal waktu penanggalan tersebut di masa lalu karena tidak lahir dari kaidah matematisnya yang ajek. Kita harus mencari arsip surat keputusan otoritas yang menetapkannya hari apa ia menjatuhkan 1 Syawal tahun tertentu di masa lampau. Ini adalah sistem yang buruk. Saudara-saudara kita umat Kristiani dalam menentukan kapan melakukan selebrasi hari Natal telah dapat mengetahui hari jatuhnya jauh hari sebelumnya berdasarkan kaidah kalender Masehi yang mereka gunakan, bukan karena keputusan otoritas penguasa yang melakukan isbat menjelang saat dimulainya momen itu.

 

Jadi apabila Muhammadiyah dikatakan terlalu kuat berpegang kepada hisab, hal itu adalah karena alasan ini. Dari segi keserhanaan prosedur, biaya murah, dan kemampuan memberikan kepastian jadwal tanggal di masa depan, pendekatan Muhammadiyah jauh lebih maju. Dalam sistem kalendernya, penentuan tanggal merupakan hasil dari logika kalender sendiri tanpa campur tangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan memang ia tidak mempunyai kewenangan itu. Pimpinan Pusat hanya mengumumkan hasil dari sistem kalender itu sendiri dan karena itu dapat dilakukannya jauh hari sebelumnya dan itu sangat memudahkan bagi masyarakat untuk menyusun dan menyesuaikan kegiatan hidupnya. Memang, kalender Muhammadiyah itu belum bersifat global dan ini tentu menjadi tantangan para ahli ilmu falak dan astronom Muhammadiyah untuk melakukan kajian guna menyempurnakan sistemnya hingga dapat menjadi suatu kalender pemersatu yang baik.

 

Kebijakan penggunaan hisab dengan memastikan penjadwalan waktu jauh hari sebelumnya sekaligus merupakan suatu kritik yang tidak diucapkan, melainkan disampaikan melalui praktik, terhadap kebijakan penjadwalan waktu dalam kalender yang, maaf kalau ini subyektif, amat buruk yang berlaku sekarang. Bayangkan menjelang detik-detik terakhir, awal bulan baru belum dapat ditentukan karena otoritas “berwenang” belum menetapkannya. Betapa tidak buruk, orang Muslim di Indonesia bagian timur sudah pukul 10:00 malam WIT masih belum mendapat kepastian apakah masih akan salat tarawih atau akan melakukan takbiran untuk menyambut datangnya lebaran. Kalau ternyata besoknya belum lebaran berarti mereka akan melaksanakan salat tarawih setelah jam 10:00 malam itu yang mereka mungkin sudah ngantuk dan lelah karena seharian berpuasa dan bekerja berat. Seandainya ada suatu sistem kalender yang pasti yang bisa menetapkan penjadwalan waktu jauh hari sebelumnya berdasarkan kaidah kalender itu sendiri, maka para tokoh alim ulama, para pakar ilmuwan dan para pejabat yang berkumpul di sidang isbat itu tentunya akan bisa berada di mesjid untuk salat tarawih bila menurut kalender lebarannya lusa, atau takbiran guna menyambut lebaran besok harinya.

 

Penulis setahun lalu pernah mendapat keluhan dari mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri di mana umat Islam minoritas. Keluhannya adalah mendapat kesulitan untuk menyewa tempat salat id karena tempat tersebut harus dibooking jauh hari sebelum id, sementara ketentuan lebarannya belum pasti kapan karena masih menunggu hasil rukyat. Serta banyak lagi keluhan lain semisal pekerja Muslim di negara minoritas Islam sulit mendapatkan cuti Idulfitri karena tidak bisa memberi kepastian jatuhnya id jauh hari sebelumnya.

 

Semua ini terjadi karena tiadanya suatu sistem kalender yang memastikan tanggal berdasarkan kaidah kalender itu sendiri. Yang ada adalah menanti keputusan otoritas kekuasaan yang akan memutuskannya pada detik-detik terakhir menjelang hari H. Selain itu penyelenggaraan sidang isbat untuk menentukan kepastian tanggal itu juga tentu memakan biaya besar, apalagi ditambah dengan biaya tim pengintai hilal di puluhan titik pengamatan. Apabila sistem kalender menggunakan metode yang lebih sederhana tetapi pasti tentu biaya itu tidak perlu dikeluarkan. Apa itu bukan sebuah pemborosan yang sebetulnya bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih mendesak. Akan tetapi hal ini memang tidak dapat dielakkan dalam suatu sistem penetapan awal bulan yang berbasis rukyat karena rukyat harus divalidasi oleh otoritas berwenang.

 

Para astronom yang terlibat dengan persoalan ini nampaknya tidak memberi perhatian serius terhadap masalah ini. Tidak pernah terdengar kritik-kritik mereka, seakan sistem yang ada ini adalah hal yang wajar saja. Untuk sebagian mungkin dapat dimaklumi karena mereka adalah bagian dari sistem itu sendiri. Bahkan bukan hanya sekedar bagian, melainkan juga adalah pendukung bersemangat yang tidak kurang “fanatiknya dibandingkan dengan kefanatikan pendukung wujudul hilal dalam Muhammadiyah.” Para pendukung sistem sekarang ini juga terbelenggu oleh metode mereka sendiri sehingga tidak dapat memanfaatkan perangkat keilmuan yang ada di tangan mereka untuk suatu pembaruan yang berorientasi kepada suatu sistem penanggalan yang dapat menjadwalkan waktu secara pasti di masa depan dan juga dapat melacak tanggal di masa lalu secara akurat melalui kaidah sistem itu sendiri.

 

Syarat untuk pembaruan ini memang berat. Kita harus rido meninggalkan rukyat yang sesungguhnya hanyalah warisan masa lalu yang telah usang dan tidak lagi mampu memenuhi hajat sistem penanggalan umat Islam kontemporer. Bahkan, menurut Ketua Asosiasi Astronomi Maroko, “sebab umat Islam belum dapat memiliki suatu sistem penanggalan global terpadu adalah karena mereka masih terlalu kuat berpegang kepada rukyat.” Jadi sudah saatnya kita beranjak dari rukyat jika kita ingin mencapai suatu sistem penanggalan yang baik. Ini bukan pendapat subyektif personal, melainkan hasil dari sebuah konferensi internasional yang juga dihadiri oleh para pakar yang sebagian mereka memiliki reputasi dunia. Pada butir kedua dari kesimpulan Temu Pakar II tahun 2008 ditegaskan bahwa para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan kamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan kamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu salat. Para ahli fikih pun banyak yang berpendapat demikian. Bahkan Syeikh Syaraf al-Qudhah, setelah melakukan kajian terhadap ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis terkait masalah hisab-rukyat menegaskan al-ashlu fi itsbat asy-syahri an yakuna bil-hisab (pada asasnya penetapan awal bulan itu adalah dengan hisab). Di sini bukan tempatnya untuk menjelaskan argumen beliau untuk pandangannya tersebut.

 

Hisab imkanu rukyat, yang sering diklaim sebagai alternatif terbaik, bukannya tanpa masalah. Kreteria imkanu rukyat sendiri ada sebanyak pakar yang mengusulkannya. Akan tetapi ini mungkin bisa diatasi dengan dengan para pakar itu sendiri bersepakat. Tetapi bukan sekedar sepakat, melainkan berdasarkan hasil riset yang komprehensif. Akan tetapi terlepas dari soal kriteria itu, hisab imkanu rukyat yang ada sekarang masih belum dapat menyatukan penanggalan umat Islam. Sebagai contoh adalah Kalender Hijriah Universal (al-Taqwim al-Hijri al-‘Alami) yang dibuat oleh Muhammad Audah (Odeh). Kalender ini didasarkan kepada kriteria imkanu rukyat Audah sendiri sebagai hasil analisis statistik terhadap 737 hasil rukyat akurat dan teruji. Namun problemnya kalender ini masih harus membelah dunia menjadi dua zona tanggal yang pada masing-masingnya berlaku tanggal berbeda pada tahun tertentu. Akibatnya kalender ini tidak dapat menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan dunia lainnya. Audah adalah pendukung rukyat bersemangat. Baginya tidak mungkin memulai awal bulan baru di dunia Islam tanpa terjadinya imkanu rukyat di salah satu tempat di kawasan dunia Islam yang terbentang dari Maroko hingga Indonesia. Namun kalendernya sendiri dalam sejumlah kasus menjadikan dunia Islam masuk bulan baru pada hal imkanu rukyat deengan teropong hanya terjadi pada kawasan sangat kecil di barat Portugal atau di bagian barat Inggris. Dari 20 tahun jadwal tanggal dalam Kalender Hijriah Universal Audah ini (sejak 1431 H s/d 1450 H) terdapat 9 kali (45 %) terjadinya perbedaan jatuhnya hari Arafah sehingga menimbulkan masalah kapan melaksanakan puasa Arafah.

 

Pendapat bahwa hari Arafah hanya penamaan hari 9 Zulhijjah, sama dengan hari Nahar (10 Zulhijjah) dan hari Tasyrik (11-13 Zulhijjan), dan hari Arafah di Arafah adalah hari wukuf, tetapi tidak harus sama untuk seluruh dunia sehingga puasa Arafah boleh beda harinya dengan hari wukuf di Arafah, pendapat tersebut bukanlah suatu penjelasan ilmiah. Pendapat ini hanya penjelasan sementara yang sifatnya lebih politis, bukan syar’I, yang hanya dapat dipegangi sementara waktu saat kalender umat Islam masih kucar kacir. Pendapat ini hanya untuk menenangkan masyarakat yang tanggal 9 Zulhijahnya jatuh berbeda dengan hari Arafah di Mekah. Apabila dikatakan bahwa mereka yang berpuasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijah di tempatnya sementara di Mekah sudah Iduladha (10 Zulhijah) tidak sah puasanya, maka akan timbul kebingungan di tengah masyarakat yang tidak tahu apa-apa tentang problem penanggalan Islam. Akan tetapi secara ilmiah dan berdasarkan sistem penanggalan yang valid, hari Arafah harus jatuh sama di seluruh dunia, dan kalender yang menjatuhkannya berbeda adalah kalender yang tidak valid.

 

Itulah mengapa dikatakan bahwa penyatuan penanggalan Islam harus bersifat global. Siapa pun yang membuat suatu rancangan kalender Islam, maka kaidah kalender itu harus bersifat global dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, sehingga penanggalan tersebut benar-benar menjadi suatu sistem penandaan hari yang akurat di dalam aliran waktu di masa lalu, kini dan akan datang. Kalau dikatakan bahwa perbedaan jatuhnya hari Arafah (9 Zulhijah) itu adalah suatu konsekuensi yang tidak terelakkan, maka ini dapat dikatakan sebagai suatu konsekuensi yang buruk. Konsekuensi buruk ini tentu timbul dari anteseden yang buruk pula, yaitu rukyat atau hisab imkanu rukyat yang selalu membelah bumi dan kurve yang membelah bumi itu dijadikan batas tanggal.

 

Akan halnya imkanu rukyat 2 derajat sebagaimana diamalkan di Kemenag adalah kaidah kalender yang sama sekali tidak ada dasar syar’inya apalagi dasar astronomis. Semua astronom tentu sangat mengetahui hal ini. Para meter tunggal saja, yaitu ketinggian, adalah parameter yang buruk. Para astronom sudah hampir sepakat bahwa parameter imkanu rukyat yang baik haruslah sekurangnya ganda, misalnya ketinggian plus elongasi, atau ketinggian plus lebar permukaan bulan yang tersinari matahari yang menghadapi ke bumi, dan lain sebagainya. Parameter tunggal, seperti ketinggian saja, elongasi saja, umur bulan saja atau mukus hilal saja, sama sekali tidak akan dapat meramalkan visibilitas hilal secara lebih sahih. Apalagi kalau parameter tunggal itu cuma dengan ukuran ketinggian 2 derajat. Ini dalam kasus tertentu hanya akan membuat kita hidup dalam ilusi atau bahkan bisa juga dalam kepalsuan atau kebohongan. Apabila ketinggian bulan berada antara 2 s/d 5 derajat, maka ini berpotensi untuk terjadinya apa yang dikatakan di atas. Seperti kasus Ramadan tahun lalu, ketinggian hilal hanya sekitar 2,5 derajat. Namun diputuskan hilal telah dapat terlihat karena ada saksi-saksi yang mengklaim dapat merukyat dan karenanya keesokan harinya dinyatakan bulan baru (seperti Ramadan 1431 H). Pada hal tidak ada seorang astronom pun dapat membuktikannya terlihat. Data ketinggian hilal Ramadan 1431 H itu jauh di bawah kriteria imkanu rukyat Audah, bahkan juga kriteria Istanbul 78. Salah seorang teman dosen pengajar ilmu falak mengatakan bahwa selama 7 tahun pengalamannya mengikuti rukyat belum pernah terjadi bahwa hilal dengan ketinggian di bawah 5 derajat dapat terukyat. Apa ini tidak berarti bahwa kita hidup dalam ilusi atau di bawah bayang-bayang kepalsuan. Kenapa kita tidak realistis saja? Kenapa kita mengambil sistem yang lebih sederhana, tidak berbiaya tinggi, tetapi dapat memberikan kepastian jadwal tanggal jauh ke depan sehingga memudahkan kehidupan kita? Wallahu a’lam bis-sawab. Allahummagfir li khata’i. Innaka antal-gafurur-rahim.

 

hasil copy-paste, sebagaimana yg di-post di halaman facebook Persyarikatan Muhammadiyah

Info Penyelenggaraan Shalat Ied Warga Muhammadiyah – 30 Agustus 2011/1 Syawal 1432H

Daftar tempat sholat Idul Fitri 30 Agustus 2011 / 1 Syawwal 1432 H yang dihimpun dari pages facebook Persyarikatan Muhammadiyah dan account twitter @muhammadiyah sampai pukul 16.00 WIB 27 Agustus 2011.

Aceh

-          Banda Aceh dilaksanakan di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Jln. KHA Dahlan No. 7 Banda Aceh, Khatib Prof. Dr. H. Al Yasa’ Abubakar, MA, Imam Sofnir.

-          Bireuen; Masjid Taqwa Muhammadiyah Bireuen, Khatib Dr. H. Aslam Nur, LML, MA, Krueng Mane Bireuen, Khatib Tgk H. Imam Syuja’.

-          Aceh Barat Daya, rencananya di Lapangan Persada Blang Pidie, Khatib Ir. H, Tgk. M. Zardan Araby Ahmad, MBA, MT, juga pelaksanaan di Lapangan Mesjid Taqwa Manggeng, Mesjid Taqwa Sp III Cot Ba’U Lembah Sabil

-          Kota Langsa di halaman komplek muhammadiyah, jln.WR.supratman no 7 Kota Langsa,

-          Aceh Tamiang  Masjid Taqwa Kualasimpang, Aceh Tamiang

 

Sumatera Utara

-          Mandailing Natal ranting muhammadiyah hutagodang muda, mesjid taqwa muhammadiyah. Ranting Muhammadiyah Sibaruang Kecabangan Simangambat, di Lapangan Komplek Muhammadiyah Desa Sibaruang

-          Deli Serdang Sei Mencirim cabang sunggal ,sholat ied di halaman sd muhammadiyah 29 sei mencirim,khatib bpk bahren manik(pcm helvetia)di kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang

-          Kota Medan PRM Megawati Cabang Pasar Merah Kota Medan, Imam Khatib Muhammad Lailan Arqam M.Pd

-          Labuhan Batu Utara di lapangan Padang Pasir Masjid Taqwa Aekkanopan Barat Kabupaten Labuhanbatu Utara Sumatera Utara. pencerama bp. Syahrial Efendi, M.Pd (wkil ketua PCM Aekknpan)

-          Padang Sidempuan Ranting muhammadiyah sigiring giring cab padangsidimpuan utara kota padangsidimpuan,Sumut dilapangan SD Muhammadiya I Sigiring giring, lapangan mesjid taqwa kampung marancar,lapangan mesjid taqwa ranting muhammadiya losungbatu,lapangan pabrik es ranting muhammadiyah siborang,jalan lintas sumatera utara ranting muhammadiyah hutarimbaru,lapangan SD inpres ranting muhammadiyah kayombun,lapangan mesjid taqwa ranting muhammadiya pangkal dolok

-          Kabupaten Langkat lapangan mesjid taqwa dusun bukit belah, kecamatan wampu kab Langkat SUmatra Utara

 

Riau

-          Kampar Bangkinang Amri Darwis MA khatib idulfitri 30/8 di mako TNI yonif 132 BS Riau, Lapangan Merdeka bangkinang RIAU.

Kepulauan Riau

-          Batam di Lapangan Tumenggung Abdul Jamal

-          Kabupaten Karimun  lapangan raja ali haji, kelurahan tanjung berlian kec kundur utr kab karimun kepri

Bengkulu

-          Kota Bengkulu di Sepanjang Jalan Raya Suprapto Kota Bengkulu

Sumatera Selatan

-          Ogan Ilir Desa Meranjat’ Kecamatan Inderalaya Selatan’ Kabupaten Ogan Ilir’ Sumatera Selatan  akan melaksanakan Shalat Ied di ” Halaman SD Muhammadiyah Meranjat

-          Kota Palembang Lapangan Masjid Al-Hikmah UMP, plaju Palembang, Lapangan SD Muhammadiyah 6/14 Palembang, Perguruan Muhammadiyah Ilir Timur II, Jl. Wahid Ali 2 Ilir Palembang

-          Musi Rawas di lapangan smp Muhammadiyah sumber harta, mari hadiri tanggal 30 agustus 2011 hari selasa jam 7.00

Lampung

-          Lampung Timur Lapangan 31 a desa sidodadi kec pekalongan lampung timur lampung

-          Lampung Tengah dlapangan smp1 seputih surabaya, lampung

-          Pringsewu: Dilapangan Tanah wakaf Muhammadiyah Jln. HM Ghardi No.29 Ambarawa, Kab. Pringsewu, Lampung

-          Lampung Selatan: Komplek Perguruan Muhammadiyah Tangkit Batu Natar Lampung Selatan

-          Kota Metro: Lapangan Hadimulyo Timur, Hadimulyo Barat, Lapangan Samber, Lapangan Margorejo, Lapangan Rejo Mulyo

Banten

-          Cilegon di Perguruan SMP Muhammadiyah Cilegon, dan Lapangan Parkir PUSDIKLAT KS… Penceramahnya itu H.Muhaimin Isa ( Majelis KAder PD Muhammadiyah Cilegon) dan Prof. DR. Muslim Tawakal (Wakil Ketua PWM sumsel)

JABODETABEK

-          Bekasi Di lapangan samping masjid agung AL-HIDAYAH perumnas III bulakkapal bekasi timur kota-bekasi, Barat Halaman parkir Bekasi Cyber ParkRanting Muh. Pondok Gede dilaksanakan hr slasa 30/8/2011 di halaman parkir Giant Pondokgede , masjid riyadhus sholihin, perum cikarang baru sektor graha asri bekasi, imam khotib ust jamil, di halaman parkir Permata Metropolitan Tambun, halaman masjid Al Muhajirin, Kp. Pulo, dan Masjid Al Tadzkirah Cibarusa. PDM Kab. Bekasi Jl. Hasanudin, Tambun, di Halaman Parkir Komplek Metrpolitan Mal (Metland) Tambun

-          Tangerang di halaman SD Muhammadyah gading serpong, tangerang, Muhammadiyah Ranting Petir, Cipondoh akan melaksanakan sholat ‘idul fitri halaman majid muhammadiyah AL-FURQON (jln. kha dahlan, kel.petir kec.cipondoh-tangerang)

-          Tangerang Selatan: Perguruan Muhammadiyah Setia Budi Pamulang Tangerang Selatan.

-          Kota Tangerang PCM Ciledug Kota Tangerang Madug Laksanakan Sholat Idul Fitri Di Lapangan Sepak Bola Sudimara Barat Kecematan Ciledug Dengan Imam Dan Khotib Bapak DRS Yunan Yusup MPD, Kota Tangerang: Perguruan Muhammadiyah Cibodas Jln.Sawo 6 Ujung Perumnas 1 Kota Tangerang ; Lapangan Universitas Muhammadiyah Tangerang, Jl. Perintis Kemerdekaan I/33, Cikokol, Kota Tangerang.,

-          Jakarta Selatan Masjid Al Huda Muhammadiyah Tebet Timur … JL. Tebet Timur Raya 565 Jakarta Selatan Khotib dan Imam HM. Sukriyanto AR. Sholat di mulai pukul 07.00 WIB. dapat menampung ribuan jamaah (lapangan dan Masjid) pelaksanaan Selasa, 30 Agustus 2011, Lapangan Masjid Baiturrahmah – Tanjung Barat – Jakarta Selatan, Imam/Khotib : Drs. Widodo, PCM Kebayoran Lama, Dr. H. Ahmad Fatoni sebagai khotib di Masjid Nurul Amal, Kompleks Perguruan Muhammadiyah. di lapangan tenis LEMIGAS (samping PCM Muhammadiyah Cipulir, Jakarta Selatan 

-          Jakarta Utara jl. Gedong Panjang, Jakarta Utara dengan khotib Drs. H. Zaenal abiding Umar. 

-          Jakarta Barat masjid AL HUDA,Jl kalianyar 5 Rt 010 Rw 03,Kel Kalianyar,Kec Tambora,JAKARTA BARAT, di Lapangan Wijayakusuma, Kompleks Slipi dengan khotib Dr. H. yunan Husen dan di depan SD Islam Bahagia Kalianyar, Tambora dengan khotib KH. Sun’an Miskan, Lc.  halaman Msjid Raya Al isro tg duren Raya. Tambora; Halaman sekolah YPMI bahagia, depan Masjid At-Toyibah Kalianyar

-          Jakarta Pusat masjid AL FALAH Benhil bendungan hilir Tanah Abang, PCM Kramat Jakarta Pusat akan menggelar shalat Idul Fitri dengan khotib Drs. Helmi Hidayat. Sedangkan di PCM Kemayoran I, H. AM Fatwa akan menjadi khotib.

-          Jakarta Timur di RS Islam Jakarta dengan khotib Prof. Dr.H. Agus Suradika, M.Pd dan di halaman Akper Binawan dengan khotib Drs. Zamah Sari, M.Ag (wakil Rektor IV UHAMKA), dan halaman kampus UHAMKA Pasar Rebo juga menggelar shalat Idul Fitri.

-          Kabupaten Tangerang untuk Daerah Kabupaten Tangerang khususnya bagian barat di lapangan SD Muhammadiyah 34 Cikupa

Jawa Barat

-          Bogor: Lapangan Tegal Leuwiliang Bogor, Deket Sekolah Madrasah Mu’allimien Muhammadiyah Leuwiliang

-          Indramayu Alun2 Kec. Haurgeulis

Jl. K.H. Ahmad Dahlan No. 3 Haurgeulis Indramayu (depan SMA Muhammadiyah Haurgeulis)

-          Cianjur Islamic Centre Muhammadyah Jl Dr Muwardi By Pass Cianjur :)

-          Cipanas : di lapang sma muhammadiyah cipanas, Jln. muhammadiyah no 47 kampung Suksari

-          Kabupaten Bandung:

Muhammadiyah Daerah Kab. Bandung : di depan Borma Katapang

Muhammadiyah Cab. Bandung Selatan: Komplek Pendidikan Muhammadiyah Bdg Selatan (Lap. SD & SMP Muhammadiyah)

Muhammadiyah Ranting Curugdogdog, Muhammadiyah Ranting Sadang, Muhammadiyah Ranting Sayati lama, Ranting Bihb

-          Kota Tasikmalaya  tersebar di beberapa titik:1. Jl. RSU no.29 (Kampus Muhammadiyah, Lapang Dadaha Kebon Kembang, PRM Sambongjaya, PRM Sambong tengah

-          Kota Bandung: Masjid Raya Mujahidin, PWM Jabar: Jln. Sancang No.6

-          Kabupaten Garut Lapangan Parkir Garut Plaza Garut Kota kab.Garut, Lap.Olah Raga Kerkop Garut Kab.Garut Jawa Barat

-          Cirebon: SMP Muhammadiyah Jatiwangi. Jln Raya Burujul Kulon No.60 – Jatiwangi- Majalengla, Cirebon; Komplek Lapangan Perguruan Muhammadiyah Cirebon Jalan Tuparev No 70 Cirebon; Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tengah Tani Kabupaten Cirebon, Desa Kalibaru Lapangan Pusaka

-          Majalengka   ( Kompleks Al-Arqom), Sukahaji ( SMK Muhammadiyah), Kadipaten ( Masjid Al Barokah/ Depan Swalayan 17), Jatiwangi ( SMP Muhammadiyah), Leuwimunding ( Lap dekat PCM)

 

Jawa Tengah

-          Semarang Kawasan Perumnas Tlogosari Semarang : 1. Masjid Luqmanul Hakim Jl. Parangkusumo Perumnas Tlogosari, Halaman parkir Univ.Muhammadiyah Semarang, Parkir Giants Swalayan, Jl Tlogosari Raya II Perumnas Tlogosaridi Lapangan SMP Muhammadiyah 09 Semarang,  Pimpinan Cabang Muhammadiyah Genuk , Semarang kota , Di Halaman SMA 10 Semarang , Jl.Kapas Utara Raya Genuk Indah , dengan Imam : Bp.Drs.H.Dimyati.Akt. ( Ketua ) & Khotib : Bp. Wahab Abdi (Sekretaris)

-          Semarang Barat Masjid “Baitul Iman” Panjangan, Semarang Barat

-          Purwokerto Alun alun purwokerto, masjid agung purwokerto

-          Banyumas kompleks perguruan muhammadiyah karanglewas kabupaten banyumas, PRM Pekuncen kab banyumas, melaksanakan di Lap PJKA Legok, Ranting Sirau,Dilaksanakan Komplek Lapangan RAHAYU Ds Sirau Kemranjen

-          Brebes halaman SMP Muhammadiyah Sawojajar Brebes  [imam dan khotib: Mughni, Lc, Songgom, di Mesjid AL MUJAHIDIN Songgom Lor

-          Semarang Lapangan Ganesha Semarang Timur

-          Kendal Lapangan Brimob Kaliwungu Kendal, Lap.Boentas Truko, Kangkung, Kendal

-          Kudus PCM Kota Kudus : Di halaman parkir “ADA Swalayan” Khotib : Dr. Ahmad Hilal Madjdi, M.Pd (Ketua PDM Kudus) ; PRM Payaman Mejobo Kudus : Khotib : Dr. Abdul Mukti, M.Ed (Sekretaris PP Muhammadiyah)

-          Kabupaten Pemalang SDN 1 karangtengah kec ampelgading kab pemalang jawa tengah, di Halaman Kantor Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang Jateng, Ranting kertosari Kec. Ulujami di Lapangan Desa Kertosari,dengan Imam Bapak Firdaus, S.Pd.I dan Khotib Bapak Sigit Sholahuddin, S.Pd.I, Lapangan desa Kertosarikec. Ulujami Kab.Pemalang, Lapangan Jatidiri kec.Comal kab.Pemalang

-          Kabupaten Pekalongan di lapangan PS HW Wuled Kecamatan Tirto Kab Pekalongan, PRM Wiradesa,kec.wiradesa,kab.Pekalongan di hlaman Rice Mill (alm) H.Abdhul Ghani Wiradesa,

-          Kota Pekalongan  pekalongan barat.shalat ied di tempat parkir carefour pekalongan.mulai jam 06.00 pagi.dengan khatib bpk.ustd arifin arghubi.

-          Banjarnegara di alun alun banjarnegara, sholat Ied di Lapangan Kota Banjarnegara, dengan Khatib Bapak Drs.H.Achmad Mubasyir Ali M.Si. (Wakil Ketua PDM),  Lap Ds Badakarya, kec Punggelan, Kab Banjarnegara..

-          Purbalingga : Lapangan Desa Timbang,Kejobong,Purbalingga

-          Solo/Surakarta Sholat Iedul Fitri 1432 H Di laksanakan Hari Selasa 30/8/11Pukul : 06.00 WIB di Lapangan Pamedan Mangkunegaran Solo. Imam/Khotib : H. Farid Wajdi, SH.MM. Penyelenggara PEMUDA MUHAMMADIYAH RANTING KEPRABON Solo.

-          Sragen di masjid AR’RAHMAN Gentanbanaran,Plupuh, Sragen, Jawa Tengah

-          Magelang lapangan alun2 magelang

-          Muntilan Lapangan pemda muntilan

-          Wonosobo  ds Garung kec kalikajar kab Wonosobo sholat ied Lapangan bola

-          Ambarawa belakang kantor kejaksaan Negeri Ambarawa

-          Kota Tegal Kejambon sholat Id di lapangan Parkir timur RSUD Kardinah kota Tegal

-          Kabupaten Tegal Ranting blendung,ranting kertasari,ranting siwen sholat ID d lap.sepak bola ds kertasari,kec.suradadi kab.tegal. Tegal: Lapangan Desa Pegirikan Kec. Talang Kab.Tegal Jawa Tengah. Imam/khotib: Bpk. Miftakhurohman, S.Pdi (PD PM Kab.Tegal)

-          Cilacap Kroya Alun-alun Tugu kroya cilacap

-          Sukoharjo di Lapangan Taman Makam Pahlawan, Desa Bakalan, Polokarto, Kab.Sukoharjo,Jawa Tengah

-          Kabupaten Temanggung Halaman smp muh 5 kndangan.dsa malebo kec. Kandangan. Kab. Temanggung

-          Jepara Lapangan Timur Pasar Slagi Desa Slagi kec.Pakis Aji kab.Jepara

-          Kebumen ALun-alun Kebumen, PKU Muhamamadiyah Sruweng, Alun-alun Karnganyar-Kebumen, Lapangan Dodik Gombong.

-          Klaten Stadion Trikoyo Kota, Masjid Jami’ Wedi, SD Muhammadiyah Tonggalan, Lapangan Gading Santren, Lapangan

DIY

-          Kota Jogja Wilayah Kec. Gondokusuman Kota Yogyakarta (wil. gedung PP Muh): Stadion Mandala Krida, Stadion Kridosono, Halaman Kampus LPP Jl. Urip Sumoharjo, Halaman Kampus APMD Jl. Timoho, Halaman Kampus SD Muh Sapen, Lapangan Pengok PJKA, Lapangan Mutiara Pengok, Lapangan Parkir Mc Donald Jl. Sudirman, Lapangan SMPN 01 Sagan, Masjid Jami Sagan, Lapangan Tegal Terban, Masjid Nidaul Jannah Terban, Jogja Expo Center Yogyakarta, alun-alun utara Yogyakarta, Di Halaman SD Muhammadiyah Sapen, Nitikan, Yogyakart

-          Bantul Bumi Perkemahan Karanganyar,Gadingharjo,Sanden,Bantul,Jogja= Imam dan Khotih H.Sadji Tirtohadijoyo,SpdI(anggota DPRD Kab Bantul), HalamanMasjid An Nur Perum SBI Sidorejo, ngestiharjo Kasihan Bantul, halaman MASJID ASH-SHIROTH. Jln.Samas, Panggang Sirat Sidomulyo Bambanglipuro Bantul Yogyakarta, Halaman Masjid Sorotopo Seloharjo Pundong , lap Blali Seloharjo Pundong, lap Bobok Pentung Seloharjo Pundong, lap Pundong Srihardono Pundong Bantul DIY.  Lapangan Trirenggo depan rumah dinas bupati bantul, khotib : Prof Dr HM Amin Rais, MA,  Lapangan Srigading Sanden :Drs. Hendarto, M.Ag,  lapangan Pleret Bantul,  Lapangan murtigading sanden bantul.. Jam 6.30

-          Sleman lapangan nogotirto gamping sleman, Minggir-moyudan tersebar diseluruh lapangan tiap kecamatan menyelenggarakan

-          Kulon Progo bumirejo, lendah, Kulon Progo  dihalaman SLTPN 1 lendah

-          Gunung Kidul kec. Tanjungsari kab. Gunungkidul Lapangan kemiri, lap. kemadang, lap. mendang, halaman SD kemiri 2, Komplek Masjid Khairul Amal gading IX, alun alun Pemda Wonosari, lapangan Ponjong,  Kec. Tanjungsari Kab. Gunungkidul Lap. Keruk : Asmorohadi SPdI, Lap. Hargosari : Ismi Sulardi, Hal. Balai Dusun Cabean : Sriyanto SPdI, Lap. Kemadang : Drs. H. Isnanto SH. MA., Hal. SD Kemiri 2 : Drs. Sudarto, Hal. Balai Dusun Panggang : Drs. Khadirin MSI., Hal. SD Muh. Jarah : Sardi SAg.,  Lap. Siraman Wonosari : H. Karno SPdI., Lap. Mulusan Paliyan : H. Supardi SPdI

Jawa Timur

-          Gresik Ranting muhammadiyah sidowungu di halaman masjid AL-ISHLAH . jl.Raya menganti- sidowungu no.4A Gresik, PRM ranting dermo benjeng sholat ied di halaman SDN dermo Benjeng, PRM Morowudi Cerme Gresik, Sholat Ied Dihalaman Perguruan Muhammadiyah Morowudi- Cerme, PRM Lengkong-Cerme: Sholat Ied Dilapangan Halaman Mi Nurul Huda, cabang gresik ranting duduksampeyan, sholat ied insyaAllah dilaksanakan di lapangan smea muhammadiyah, di lapangan SMEA Muhammadiyah 8 Benjeng Gresik dan SMP Muhammadiyah Balong Panggang Gresik,  di tanah lapangan & bi pas Dukun Gresik.Jatim

-          Surabaya Di Jalan Pahlawan Surabaya, Khatib: Drs. HM. Nadjib Hamid, M.Si. (sekretaris PWM Jatim), Masjid Al-Huda simomulyo baru surabaya sholat Id di lap.RW IV simomulyo baru, Lapangan depan makam umum ngagel by prm kalibokor surabaya, Untuk Ranting Kedurus ada 2 tempat. Lapangan Waduk Kedurus dan Lapangan SDN Kedurus sebelah Kelurahan,  Ranting Medokan di Lap SD Islam Medokan Semampir

-          Bangkalan : Ranting Modung-kedungdung … Lap Masjid Taqwa-Labang

-          Lamongan Masjid Al azhar lamongan, Di lapangan masjid mujahidin singkul-lamongan, PCM Babat Lamongan di Lapangan Sawogaling Babat dengan Imam dan Khotib Bpk. Imam Robandi (PW Muhammadiyah Jatim), Lapangan MI GUPPI kedungmegarih-Kec. Kembangbahu-Lamongan Jawa Timur, Halaman Perguruan Muhammadiyah Lopang Kembangbahu Lamongan Jatim, PCM Laren Lamongan di Perguruan Muhammadiyah Laren

-          Banyuwangi di lapangan desa jatirejo,purwoharjo BANYUWANGI, PCM GAMBIRAN – BANYUWANGI, di halaman Masjid AL-HIKMAH, Jajag

-          Kediri Lapangan Desa Burengan, Jl. letjend. Sutoyo Burengan Kediri – Jatim.

-          Trenggalek lapangan st.minaksopal trenggalek, Di halaman Masjid Al-Hidayah jombok kec.Pule,kab.Trenggalek

-          Sidoarjo di lapangan taxi silver jl trunojoyo 6 sidoarjo, Halaman Masjid Riyadhus Sholihin PRM Kalipecabean Candi Sidoarjo. Pukul 06.00 WIB. Imam dan Khotib: Gelar Muhammad Fillhajj, Sholat Ied di Lapangan Eprek – Ketegan – Sepanjang – Sidoarjo – Jawa Timur (Muhammadiyah Ranting Ketegan), PRM Wage Taman Sidoarjo, sholat di Lapangan Sepak Bola Dewata Wage Sidoarjo

-          Ponorogo GBK Gelora Batoro Katong Ponorogo, Komplek Perguruan Muhammadiyah Jetis Ponorogo

-          Probolinggo stadion bayuangga probolinggo

-          Bondowoso 1. lapangan perintis, 2. halaman TK Aisyiyah – cindogo -Tapen

-          Situbondo d lapangan GOR abdulrahman saleh situbondo.

-          Blitar di lapangan tenis Agung,jl Ir.Soekarna, selatan makam Bung Karno

-          Batu, Malang PCM Kota Batu – Jawa Timur Sholat Idul Fitri 1432 H Selasa, 30 Agustus 2011 Pukul 05.30 WIB bertempat di Stadion Gelora Brantas Kota Wisata Batu Khotib : Ust. Muhammad Yusron Mustofa, Lc [dari Kediri] Imam : Ust. Baharuddien Sya’ban, S.Pd

-          Madiun islamic center madiun jalan sumatera

-          Mojokerto Lapangan gempolkerep, gedeg, m0jokerto, GOR A.Yani

-          Tulungagung  lapangan desa Besole, kab Tulungagung

 

Bali

-          Denpasar  1. Lapangan Niti Mandala Renon Dps (depan kantor Gubernur Bali) PCM Densel, Lap. SD Muh 1 Denpasar, Jl Imam Bonjol 51 Dps, Lap. SD Muh 2 Denpasar Jl. Halmahera 24 Sanglah Dps,  Lap. SMA Negeri 4 Denpasar Jl. Gunung Rinjani Denpasar, Lapangan SMP/SMA Muhammadiyah 1 Denpasar, Jl. P. Batanta 80 Br Sebelanga Denpasar

-          Jembrana Halaman Masjid An Nur Muhammadiyah, Jl. Danau Kalimutu 58 Negara

-          Tabanan  Lapangan Dangin Carik Tabanan barat PDM Tabanan Bali

-          Buleleng  Lapangan Sekolah Polisi Negara (SPN) Jl Skip Singaraja (10 Meter selatan SMA Muh Singaraja)

Sulawesi Selatan

-          Makassar PUSDAMM,Lap.Awwalul Islam Gombara,UNISMUH Makassar, Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar Jln. Sultan Alauddin 259 Makassar, Khatib/Imam KH. Djamaluddin Amien

-          Kab. Gowa Sulsel untuk kawasan kec. Bungaya,Manuju dan Biringbulu Shalat Ied dibuka pada tanggal 30 Agustus 2011 di lapangan komplek Hutan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar Dusun Pannyambeang Desa Bissoloro Kec, Bungaya Kab. Gowa. Imam Imam Dusun Pannyambeang Fakhruddin Dg. Nyampa, Khatib M. Khairun, S. Pd. I

-          Bone: Di lapangan kampus STKIP Muhammadiyah Bone, Sulsel

-          Wajo: Lapangan Sepak Bola Maniangpajo di Kel. Anabania, Kec. Maniangpajo, Kab. Wajo, Sulsel, di lapangan Callaccu

-          Kota Palopo di GOR Lagaligo

Sulawesi Utara

-          Kota Bitung Halaman Gedung DPRD Kota Bitung Sulawesi Utara. PDM Kota Bitung. Imam Teddy Lahati SHI; Khatib Risman Mantuli S.PdI

-          Kota Manado ada 4 tempat yaitu: 1. Halaman Parkir Mega Mas Boulevard Manado penyelenggara PWM SULUT. 2. Halaman Masjid An- Nur Kelurahan Sumompo Manado Imam/Khatib Sutrisno Ismail Penyelenggara PRM Sumompo. 3. Halaman Masjid Darul Arqam Kelurahan Ternate Tanjung Manado, Penyelenggara PRM Ternate Tanjung. 4. Halaman Masjid Thurul Arqam Kelurahan Banjer Manado Penyelenggara PRM Banjer-Tikala, ranting muhammadiyah Ternate Tanjung manado di masjid Darul Arqam

Sulawesi Tengah

-          Kota Palu: Lapangan Vatu Lemo (Depan Wali Kota Palu)

-          Palu Barat:  Lapangan Gelanggang Olahraga

-          Palu Timur: lapangan Komp. Al – Haq

-          Palu Utara: Lapangan Pelabuhan Pantoloan

-          Palu Selatan: Lapangan BTN Pengawu

 

Sulawesi Tenggara

-          Kendari: Kampus Univ. Muhammadiyah Kendari Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 10 Kendari

Kalimantan Timur

-          Tarakan Kalimantan Timur: Pelabuhan Tarakan (khotib:Ahmad Kosasih, LC )

-          Samarinda Samarinda : 1. PCM Samarinda Utara Stadion Madya Sempaja : Ust.H.Ilham Muchtar, Lc.MAG; 2. PDM Samarinda Stadion Segiri : Prop.DR.H.Anwar Abbas, M.Ag; 3. PCM Samarinda Ulu Lapangan SDM 2 Samarinda : Ust.H.Joko Sulistyo, SMK Istiqomah Muhammadiyah 4 samarinda

Kalimantan Selatan

-          Banjarmasin di halaman Mesjid Al-Jihad Banjarmasin, Halalaman Gedung Sultan Suriansyah, kayu tangi, Banjarmasin

-          Banjarbaru Lapangan Sepakbola Angkasa Pura I, Banjarbaru – Kalimantan Selatan, Lapangan Dr.Murjani , B.Baru, Kalsel

-          Tanah Laut, Pelaihiri Halaman Bank Kalsel Pelaihari

-          Martapura lapangan Murjani bjb & lap. Cahaya bumi selamat Martapura, Kalsel

Maluku Utara

-          Ternate: Maluku Utara Sholat dipusat da’wah Muhammadiyah. Masjid Darul Arqam. Kampung makasar, Kota Ternate

 

Papua Barat

-          Kota Sorong Papua Barat : Halaman Kampus AL AMIN Muhammadiyah

Papua

-          Merauke Muhammadiyah merauke tmpt dan lokasi pelaksanaan halaman smp/smu muhammadiyah jl.garuda spadem Merauke

-          Lap. Panti Asuhan Muhammadiyah kota jayapura

 

INFORMASI TEMPAT KHUTBAH IDUL FITRI

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

TAHUN 1432 H / 2011 M

1.       Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin (Ketua Umum)

Di Alun-alun Utara Yogyakarta

2.       Dr. H. Haedar Nashir, M.Si (Ketua)

Di Lapangan Helyped Kampus Universitas Muhammadiyah

Jl. Raya Tlogomas 246 Malang Jawa Timur

3.       Drs. H. Muhammad Muqoddas, Lc., M.A. (Ketua)

Di Halaman Masjid An Nur Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

4.       Drs. H. A. Dahlan Rais, M.Hum (Ketua)

Di Alun-alun Kecamatan Majenang Cilacap Jawa Tengah

 

5.       Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag. (Ketua)

Di PCYC Sport Stadium Marrickville 531, Illawarra Road, Sydney, Australia

6.       Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni (Ketua)

Di Lapangan Sidokumpul, Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

 

7.       Dr. H. A. Fattah Wibisono, M.A. (Ketua)

Di Lapangan (Ranting Muhammadiyah ) Sedayu Lawas Brondong Kabupaten Lamongan Jawa Timur

8.       Drs. H. Goodwil Zubir (Ketua)

Di Lapangan Kompleks Perguruan Muhammadiyah ASEAN, Batam, Kepulauan Riau

9.       Drs. H. M. Sukriyanto, AR, M.Hum (Ketua)

Di Masjid Al Huda Jl. Tebet Timur Raya Jakarta Selatan

10.   Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. (Ketua)

Di Mulgrave Community Center, Rupert Drive, Mulgrave, Victoria, Australia

 

11.   Dr. H. Agung Danarto, M.Ag (Sekretaris Umum)

Di Lapangan Kecamatan Sewon Bantul DIY

12.   Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed (Sekretaris)

Di Lapangan (Ranting Muhammadiyah) Payaman Cabang Mejobo Kabupaten Kudus Jawa Tengah

13.   Drs. H. Marpuji Ali, M.Si (Sekretaris)

Di Lapangan Kottabarat Solo Jawa Tengah

14.   Dr. H. Anwar Abbas, M.M. (Bendahara)

Di Lapangan Parkir GOR Segiri Samarinda Kalimantan Timur

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah kemungkinan Berbeda

Dari informasi yang kita terima dan kita baca akhir-akhir ini, kemungkinan HariRaya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ada perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan ketinggian bulan (moon altitude) pada tanggal 29 Agustus kurang dari 2 derajat sehingga tak memungkinkan hilal terlihat dengan mata telanjang.

Apa sih yang dimaksud dengan informasi di atas tersebut ? Sekarang mari kita sedikit belajar bersama-sama tentang ilmu hisab atau astronomi ini. Tapi sebelum melangkah lebih jauh silahkan di download dulu program MoonTools for Windowsdi artikel Perhitungan Matahari dan Bulan dengan SunMoonatau Perhitungan Matahari dan Bulan – Astronomical Algorithms.

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Konjungsi atau Ijtimak atau bulan baru (new moon) akan terjadi pada Senin 29 Agustus 2011 pukul 10:05:14 WIB (wilayah Surabaya). Coba stop auto timer [no.1] dan set jam secara manual sampai umur bulan (age of moon) menjadi 0 (ijtimak) [no.2].

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Pada tanggal 29 Agustus tersebut Matahari terbenam (Sunset) pukul 17:28:39 WIB (wilayah Surabaya)[no.3]. Set manual jam menjadi 17:28:39  [no.4] dan di situ ketinggian bulan (moon altitude) menunjukkan 1° 3′ 47″ [no.5]. Pada kondisi ini, secara astronomis hilal mustahil dapat di rukyah atau hilal tidak akan terlihat.

Sekarang mari kita cek visibilitas (penampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas Matahari terbenam di seluruh dunia.  Kita bisa menggunakan softwareAccurate Times buatan Mohammad Odeh dengan mengunakan kriteria Odeh (adopsi Limit Danjon sebesar 6° untuk syarat ketinggian hilal agar terlihat dengan mata telanjang)

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

atau kriteria SAAO yang lebih rendah lagi.

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Lihat kedua gambar di atas. Arsiran warna hijau merupakan daerah yang bisa melihat hilal pada saat itu (29/8). Dan wilayah Indonesia merupakan daerah yang mustahil melihat hilal walaupun menggunakan teropong.

Itulah sedikit gambaran informasi tentang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H yang menyebutkan bahwa tanggal 29 Agustus 2011 Hilal belum terlihat karena ketinggian bulan masih dibawah 2 derajat.

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ini besar kemungkinan akan mengalami perbedaan. Pemerintah (Isbat) yang diperkirakan menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011 berbeda dengan keputusan Muhammadiyah yang sejak awal menetapkan 1 Syawwal jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sedangkan NU, Persis dipastikan akan mengikuti keputusan pemerintah yaitu berlebaran pada Rabu, 31 Agustus 2011 karena kriteria yang mereka pergunakan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan pemerintah.

Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut ?

Sekarang mari kita ulas satu persatu kriteria yang digunakan untuk menentukan Hilal.

Rukyat Hilal ( Visibilitas Hilal )

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas hilal di atas, maka seluruh wilayahIndonesia mustahil dapat menyaksikan hilal pada hari pertama ijtimak sore setelah Matahari terbenam (29/8). Dengan mata telanjang, Hilal baru mungkin dirukyat pada hari kedua ijtimak (30/8). Dengan demikian maka diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432 H akan jatuh pada: Rabu, 31 Agustus 2011.

Hisab Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut.

Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

  1. Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
  2. Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
  3. Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Belakangan kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia sementaraSingapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal dan Brunei Darussalam menggunakan Rukyat Hilal berdasar Teori Visibilitas.

Menurut Peta Ketinggian Hilal tersebut, pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS belum terpenuhi. Dengan demikian  diberlakukan ISTIKMAL sehingga 1 Syawal 1432 H jatuh pada : Rabu, 31 Agustus 2011.

Hisab Wujudul Hilal

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah  menyatakan  bahwa : “Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam”. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi.  Maka 1 Syawal 1432 H ditetapkan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi  180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

..

Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur belum masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian 1 Syawal 1432 H di masing-masing zona akan jatuh pada : Zona Timur :  Selasa, 30 Agustus 2011. Zona Barat : Rabu, 31 Agustus 2011.

Rukyat Hilal Saudi

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “Hilal” baik yang “sengaja salah” maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap penampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi.  Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan sidang istbat terhadap laporan rukyat yang “kontroversi” tersebut.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan “Ummul Qura” yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya  berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi modern yang diketahui memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.

1 Syawal 1432 H berdasarkan Hisab dan Rukyah Beda

Diagram ketinggian Hilal di Mekkah pada hari pertama ijtimak.

Menurut Kalender Ummul Qura’ :

Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah “Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah” maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada haripertama ijtimak/konjungsi kondisinya sudah memenuhi syarat. Dengan demikian 1 Syawal 1432 H akan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana “Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut”.

Melihat posisi Hilal, mustahil rukyat di Saudi pada hari pertama ijtimak  Namun demikian jika ada yang mengaku berhasil maka 1 Syawal 1432 H akan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Namun jika laporan rukyat gagal (harusnya) maka awal bulan akan jatuh pada:Rabu, 31 Agustus 2011.

Awal Bulan Negara-negara Lain

Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei danSingapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia danSingapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan “Kriteria Imkanurrukyat MABIMS” yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°. Belakangan ternyata kriteria ini hanya digunakan oleh Indonesia dan Malaysia.

Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankanrukyat bil fi’li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara :

  1. Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat  (Qadi) serta dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah antara lain dilakukan oleh negara-negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko, Trinidad dan Brunei Darussalam.

  2. Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan  diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh  Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.

  3. Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.

  4. Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak  digunakan oleh Mesir.

  5. Menunggu berita dari negeri tetangga –> diadopsi oleh Selandia Baru  mengikuti  Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.

  6. Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat  –> Kepulauan Karibia

  7. Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari –> diadopsi oleh Algeria, Turki, Tunisia dan Malaysia.

  8. Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar  diadopsi oleh negara Libya.

  9. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah –> diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa (ISNA)

  10. Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun

  11. Menggunakan Rukyat Mata Telanjang : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.

  12. Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah,  serta beberapa jamaah (tarekat) lainnya masih menggunakan hisab urfi yang sangat sederhana.

Berikut sedikit informasi tentang terjadinya perbedaan dalam menentukan 1 Syawal 1432 H yang selama ini terjadi. Semoga perbedaan ini menjadikan kita semua saling belajar tanpa ada rasa saling memojokkan golongan lainnya. Amien.

Pustaka :

sumber : http://ariefew.com/programming/1-syawal-1432-berdasarkan-hisab-rukyah-beda/comment-page-1/#comment-21266

Mewujudkan Gerakan Dakwah di Ranting [1]

Disebutkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Ranting adalah kesatuan anggota di suatu tempat atau kawasan yang terdiri atas sekurang-kurangnya 15 orang yang berfungsi melakukan pembinaan dan pemberdayaan anggota. Pimpinan Ranting memimpin Muhammadiyah dalam rantingnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan di atasnya. Tugas utama Pimpinan Ranting adalah memimpin Anggota Muhammadiyah di rantingnya untuk mengemban misi Muhammadiyah dan mewujudkan visi atau tujuannya.

 

Misi Muhammadiyah sebagaimana ditulis dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam. Dalam Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, misi tersebut diaktualisasikan dengan cara: (1) menegakkan Tauhid yang murni berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah; (2) menyebarluaskan dan memajukan Ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah/maqbulah; (3) mewujudkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Misi tersebut merupakan langkah-langkah untuk mewujudkan Visi Muhammadiyah “Terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”

 

MewujudkanVisi Muhammadiyah di Ranting

 

Masa depan Muhammadiyah ditentukan oleh apa yang dilakukan oleh anggota, kader, dan para pemimpinnya. Gerak yang mereka lakukan adalah langkah-langkah yang sangat bermakna dan memberikan gambaran masa depan. Bila yang dilakukan tidak terkait dengan tujuan Muhammadiyah, maka selamanya tujuan Muhammadiyah tidak akan terwujud. Tetapi bila geraknya menuju tujuan Muhammadiyah, maka kita tinggal menunggu waktu untuk menyaksikan terwujudnya.

 

Program dan aktifitas apapun yang dilakukan oleh anggota, kader, muballigh, dan para pemimpin Muhammadiyah seharusnyalah dengan visi yang sama, yakni terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Bagi ranting, visi tersebut diterjemahkan menjadi“Terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya di ranting yang bersangkutan”.

 

Penjelasan Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah menyebutkan, bahwa Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya secara umum dapat digambarkan sebagai keadaan masyarakat yang sentosa dan bahagia, disertai nikmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga merupakan “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur” yakni suatu negara yang indah, bersih, suci dan makmur di bawah perlindungan Tuhan yang Maha Pengampun.  Masyarakat semacam itu, selain merupakan kebahagiaan di dunia bagi seluruh manusia, akan juga menjadi tangga bagi ummat Islam untuk memasuki gerbang surga “Jannatun Na’im” untuk mendapatkan keridhaan Allah yang abadi.

 

Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya itu adalah merupakan rahmat Allah bagi seluruh alam, yang akan menjamin sepenuhnya keadilan, persamaan, keamanan, keselamatan, dan kebebasan bagi semua anggota-anggotanya.

 

Secara sederhana, Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya di ranting digambarkan sebagai sebuah kawasan yang didominasi olehpribadi-pribadi muslim yang sebenar-benarnya. Mereka memberikan pengaruh kuat kepada keluarga dan  masyarakat lingkungannya. Mereka berjuang menjadikan keluarganya menjadi Keluarga Islam yang sebenar-benarnya. Peran sosial yang mereka emban dilakoni sesuai dengan ajaran Islam dan dijadikan sebagai sarana menyebarluaskan dan memajukan ajaran Islam. Mereka menjalani peran sosialnya dengan menjadi ketua RT, ketua RW, lurah, kepala desa, guru, ustadz, pedagang, dan lain-lain.

 

Kunci pencapaianvisi Muhammadiyah adalah pribadi muslim yang sebenar-benarnya. Semakin banyak jumlah mereka, semakin dekat visi tercapai. Tugas Muhammadiyah membina sebanyak-banyaknya orang. Bila di sebuah kawasan ranting berpenduduk 1.000 orang, maka Pimpinan Ranting seharusnya menjadikan mereka semua menjadi sasaran dakwah. Selanjutnya memetakan siapa-siapa di antara mereka yang muslim dan non muslim. Yang muslim dicatat, berapa orang dan  siapa-siapa saja yang anggota Muhammadiyah, yang simpatisan Muhammadiyah, dan yang non simpatisan Muhammadiyah. Demikian pula yang non muslim, berapa orang dan siapa-siapa saja yang beragama Kristen, Katolik, Hindu. Budha, dan lain-lain.

 

Energi terbesar hendaknya dicurahkan untuk membina anggota dan simpatisan. Terhadap yang non simpatisan, kita menjaga hubungan baik, bersillaturrahim, menunjukkan kebaikan Muhammadiyah, dan memberikan pelayanan yang bisa diberikan seperti pelayanan pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Siapa tahu lama-lama mereka bisa menjadi simpatisan.  Terhadap yang non muslim, kitapun harus menjaga hubungan baik selagi mereka tidak menghalang-halangi ummat Islam untuk menjalankan agamanya, sambil mengajak mereka untuk mengerti Islam dan menjadi muslim.

 

Sebagai modal perwujudan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, diperlukan pribadi-pribadi muslim yang jumlahnya mencukupi untuk mengatur dan mendominasi tata kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Dalam kasus kawasan ranting yang berpendudukan 1.000 orang, Pimpinan ranting harus berani menargetkan lebih dari 500 orang yang dibina secara serius. Perjuangan utama anggota Muhammadiyah di ranting tersebut adalah membina mereka menjadi pribadi-pribadi muslim yang sebenar-benarnya.

 

Gambaran Pribadi Muslim yang sebenar-benarnya

 

Pribadi Muslim yang sebenar-benarnya adalah pribadi yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara kaafah,  dengan ciri-ciri:bertauhid murni, berakhlak mulia, taat beribadah dengan cara yang dituntunkan Nabi, dan  bermuamalat duniawiyat menurut ajaran Islam. Contoh pribadi muslim yang sempurna adalah Rasulullah SAW. Pribadi Rasulullah adalah puncak sesungguhnya dari kepribadian muslim yang sempurna, yang seharusnya kita jadian acuan perjalanan hidup kita.

 

Menjadi pribadi seperti Rasulullah, seharusnya menjadi impian terbesar hidup kita, menjadi obsesi kita, menjadi sesuatu yang kita perjuangkan dengan segala daya dan upaya yang kita miliki. Hidup kita adalah perjuangan mewujudkan impian tersebut. Aktualisasinya adalah dengan melangkahkan kaki dan memastikan bahwa langkah-langkah kita benar-benar menuju puncak impian tersebut.

 

Kita harus mencurahkan segenap energi yang kita miliki untuk melangkah mendaki menuju puncak kepribadian meskipun jauh lebih berat dibanding bila melangkah turun menjauhi puncak. Bila kita melakukan perjalanan mendaki gunung, kita cukup dengan melangkahkan kaki kanan dan kiri secara bergantian dan berulang-ulang sampai ribuan kali, dan akhirnya kita bisa tiba di puncak. Demikian pula perjalanan menuju pribadi muslim yang sebenar-benarnya, kita cukup melakukan dua langkah berulang-ulang tanpa kenal lelah.

 

Langkah pertama:menyelaraskan misi pribadi dengan misi Muhammadiyah.

 

Misi pertama  Muhammadiyah adalah“menegakkan Tauhid yang murni berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Misi tersebut kita aktualisasikan dalam pribadi kita masing-masing sehingga menjadi :”menegakkan tauhid yang murni berdasar Al Qur’an dan As-Sunnah dalam diri saya pribadi” Yang kita lakukan adalah mempelajari tauhid dan menjadikan hidup kita sepenuhnya berdasar tauhid yang murni, bebas dari segala macam bentuk syirik. Inti dari ajaran tauhid adalah kalimah laa ilaaha illallah –tidak ada ilah kecuali Allah – . Kata Ilah di dalam Al Qur’an setidaknya digunakan untuk 3 hal: pertama, benda-benda atau berhala-berhala yang dijadikan sesembahan. Kedua, manusia yang segala titahnya harus ditaati meskipun tidak sesuai dengan aturan Allah, seperti yang dilakukan oleh Fir’aun. Ketiga, hawa nafsu, yakni ketika dorongan nafsu berhasil mengatasi tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang bertauhid murni adalah yang berhasil membebaskan diri segala macam pengaruh benda, sesama manusia, dan hawa nafsu, dan hanya membuka peluang dan membenamkan diri dalam pengaruh yang berasal dari Allah. Benda, manusia, hawa nafsu boleh mempengaruhi dirinya sepanjang sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Ia menjadi orang yang paling bebas karena bersandar kepada Allah yang Maha Perkasa, tidak ada ikatan-ikatan lain yang membelenggunya.

 

Misi kedua Muhammadiyah adalah: “menyebarluaskan dan memajukan Ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah/maqbulah”. Kita jadikan menjadi misi pribadi kita sehingga menjadi: “Saya belajar, menyebarluaskan, dan memajukan Ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahihah/ maqbulah”. Aktualisasi misi ini kita lakukan dengan senantiasa mempelajari Islam dengan membaca, mengikuti pendidikan dan pengajian. Tiada hari tanpa belajar. Semakin lama kepahaman kita terhadap ajaran Islam semakin baik.

 

Misi ketiga Muhammadiyah adalah “mewujudkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat”. Kita jadikan menjadi misi pribadi menjadi “Mewujudkan Islam dalam kehidupan pribadi saya dan keluarga saya”. Menjalankan misi ketiga ini menghasilkan komitmen untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaafah. Setiap perintah Allah disikapi dengan bersungguh-sungguh mengamalkannya. Setiap larangan Allah disikapinya dengan sungguh-sungguh menghindarinya. Ia senantiasa bersungguh-sungguh menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah.

 

Langkah kedua: membangun kebiasaan positif.

 

Masa depan kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Perbuatan baik yang dilakukan terus menerus menjadi kebiasaan baik. Kebiasaan baik yang dilakukan terus menerus menjadi sikap, dan sikap berkembang menjadi karakter. Kesuksesan dimulai dengan membangun kebiasaan baik, melakukan terus menerus apapun rintangannya. Boleh saja terjatuh, tetapi selalu bangun lagi. Orang mengatakan jatuh bangun. Di situlah terjadi pembelajaran luar biasa. Setiap kejatuhanan adalah guru yang membuat semakin arif dan vaksin yang menjadikan semakin kuat sehingga ketika bangun menjadi semakin bijak dan kokoh. Tidak ada orang hebat yang tak pernah jatuh.

 

Perbuatan baik yang harus kita biasakan dan perjuangkan menjadi kebiasaan anggota Muhammadiyah dan pribadi-pribadi muslim, antara lain The Seven Golden Habit bagi seorang Muslim. Bagi seorang Muslim, The Seven Golden Habit (tujuh kebiasaan emas) ini dapat diterjemahkan dalam bentuk: pertama, tertib dalam melaksanakan shalat, yakni shalat fardhu di awal waktu dan berjama’ah serta melaksanakan shalat tathawwu’, meliputi shalat sunnah rawatib, shalat tahajud 11 raka’at setiap sepertiga malam akhir dan shalat dhuha setiap pagi. Kebiasaan emas kedua adalah puasa sunnah, ketiga: berinfaq dan berzakat secara terprogram, keempat: beramal shaleh dan berjihad setiap hari, kelima: membaca Al-Qur’an setiap hari dan mengkhatamkannya (30 juz) setiap bulan, keenam: membaca buku minimal satu jam setiap hari, dan ketujuh: berpikiran positif dan murah senyum.

 

Kedua langkah tersebut kita lakukan berulang-ulang terus menerus sampai ribuan kali bahkan jutaan kali sepanjang hanyat masih di kandung badan. Setiap langkah yang benar memberikan selapis peningkatan kualitas pribadi. Semakin banyak pengulangan langkah semakin tinggi pula kualitas pribadi kita, dan semakin dekat terwujud pribadi muslim yang sebenar-benarnya

 

Aktualisasi Gerakan di Ranting

 

Menurut Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, Ranting Muhammadiyah dapat berdiri apabila anggota-anggota Muhammadiyah di suatu kawasan telah mampu: (1) Menyelenggarakan pengajian/kursus anggota berkala, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan; (2) Menyelenggarakan pengajian/kursus umum berkala, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan; (3) Mendirikan Mushalla/surau/langgar sebagai pusat kegiatan; (4) Membentuk jama’ah-jama’ah.

 

Persyaratan pendirian ranting tersebut merupakan ketentuan strategis yang dapat menjamin gerakan dakwah Muhammadiyah dapat terlaksana di kawasan ranting. Pengajian, kursus berkala, mushalla, dan jama’ah merupakan media pembinaan yang efektif untuk pembinaan ummat. Pimpinan Ranting berkewajiban menyelenggarakan media-media pembinaan tersebut menjadi lembaga yang punya nama di kawasan ranting sehingga memiliki daya panggil yang kuat dan digemari masyarakat.

 

Pengajian/Kursus Anggota Berkala

 

Pengajian Anggotaadalah pengajian khusus bagi anggota-anggota Muhammadiyah. Tujuannya memberikan pengajaran dan bimbingan kepada anggota agar menjadi muslim yang taat,memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang benar sesuai dengan yang dipahami Muhammadiyah, dan mampu menjadi subyek dakwah terutama sebagai inti jama’ah. Kita dapat mensosialisasikan himpunan putusan tarjih, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Tuntunan Keluarga Sakinah, kaidah-kaidah perjuangan Muhammadiyah serta produk-produk pemikiran resmi Muhammadiyah lainnya. Diselenggarakan sekurang-kurang sekali dalam sebulan, idealnya diselengarakan seminggu sekali karena otak lebih mudah mengingatnya dan lebih mudah menjadikannya sebagai kebiasaan mingguan. Pimpinan Ranting berkewajiban memotivasi setiap anggota Muhammadiyah yang berada dalam kawasan ranting senantiasa hadir di setiap pengajian anggota.

 

Kursus Anggota Berkala adalah kursus-kursus yang diselenggarakan khusus untuk anggota Muhammadiyah. Bentuknya bisa berupa Baitul Arqam, Darul Arqam, Mabit Bersama, Kursus Penyelenggaraan Jama’ah, dll.

 

Pengajian/Kursus Umum Berkala

 

Pengajian Umumadalah pengajian untuk anggota Muhammadiyah dan masyarakat umum. Pengajian ini menjadi media Muhammadiyah dalam menyebarluaskan ajaran Islam kepada masyarakat umum. Karena sifatnya yang umum, dalam pengajian ini sebaiknya mengajarkan topik-topik yang tidak mudah menimbulkan gejolak atau sikap pro dan kontra di kalangan ummat Islam. Sesuai dengan misi Muhammadiyah, materi yang paling tepat adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pengajian umum ini dapat dikembangkan menjadi lembaga pengajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah yang komperhensif, berorientasi pada peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. ART Muhammadiyah mensyaratkan ranting menyelenggarakannya sekurang-kurangnya sebulan sekali. Lebih bagus bila dapat diselenggarakan seminggu sekali sehingga mudah diingat dan menjadi agenda rutin mingguan.

 

Kursus Umum Berkala;adalah kursus-kursus yang diselenggarakan untuk mengajarkan ketrampilan tertentu kepada anggota dan simpatisan Muhammadiyah. Kursus-kursus yang diselenggarakan ranting antara lain: Kursus Shalat, Kursus Merawat Jenazah, Kursus Manasik Haji dan Umrah, Kursus Penyembelihan, dan lain-lain.

 

Masjid/Mushalla/Surau/Langgar sebagai pusat Kegiatan

 

Pimpinan Rantingberkewajiban membina masyarakat agar menjadikan masjid/mushalla/surau/ langgar sebagai pusat kegiatan anggota dan simpatisan Muhammadiyah serta masyarakat muslim pada umumnya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain: pertama, mengelola masjid/mushalla/surau/langgar dengan baik dengan cara: menetapkan imam masjid dari kader Muhammadiyah, membentuk Pengurus Ta’mir dari kalangan anggota dan simpatisan Muhammadiyah aktif, dan menyelenggarakan pelatihan “Penyelenggaraan Masjid/Mushalla/Surau/ Langgar”  bagi Pengurus Ta’mir.

 

Kedua, menyelenggarakan pengajian/kursus anggota dan umum di masjid/mushalla/langgar. Ketiga, menyelenggarakan Pengajian Anak-Anak. Keempat, menyediakan tempat untuk kegiatan-kegiatan masyarakat, seperti: acara akad nikah, walimah, dan kelima, mengajak masyarakat Islam untuk memakmurkan masjid dengan shalat fardhu 5 waktu berjama’ah

 

Jama’ah

 

Buku Pedoman Pokok Pembentukan Jama’ah terbitan PP Muhammadiyah (1972) disebutkan, bahwa Jama‘ahadalah sekelompok orang atau keluarga dalam satu lingkungan tempat tinggal yang merupakan satu ikatan yang diusahakan pembentukannya oleh seorang atau beberapa orang anggota Muhammadiyah dalam lingkungan tersebut. Jama‘ahmerupakan dakwah dengan menggunakan sistem pembinaan masyarakat dengan menggiatkan anggota Muhammadiyah dalam tugasnya sebagai muballigh. Idealnya setiap jama’ah terdiri atas 5–10 keluarga. Dalam setiap jama’ah terdapat satu atau lebih anggota Muhammadiyah.

 

Jama’ah merupakan amal usaha wajib bagi ranting. Kewajiban membina jama’ah mengisyaratkan bahwa setiap anggota Muhammadiyah haruslah berada  dalam jama’ah. Dengan berjama’ah, semangat ber-Islam akan terjaga, dan hidupnya akan terpimpin. Dalam jama’ah, pembinaan akan intensif dan berlangsung dalam jangka lama.

 

Jama’ah dipimpin oleh seorang Kader Muhammadiyah yang bertugas antara lain: (1) memotivasi dan  menjaga agar masing-masing anggota jama’ahnya mengikuti pengajian rutin dan kursus-kursus yang diselenggarakan; (2) membimbing anggota jama’ah membiasaan “The Seven Golden Habit” dan mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya; (3) membimbing anggota jama’ah dalam mengaktualisasikan ajaran Islam pada bidang tugas dan pekerjaan masing-masing; (4) menjaga agar anggota jama’ahnya senantiasa berada dalam jama’ah, dan tidak keluar dari jama’ah sampai akhir hayat; (5) apabila anggota jama’ahnya pindah tempat tinggal, ia menghubungkan dengan jama’ah yang ada di tempat tinggalnya yang baru dan menyerahkannya kepada pemimpin jama’ahnya untuk pembinaan lebih lanjut; (6) menduplikasikan kemampuannya memimpin jama’ah kepada anggota-anggotanya dengan mensponsori mereka menjadi kader.

 

Dengan dipimpin oleh Pemimpin Jama’ah inilah, anggota dan simpatisan Muhammadiyah diproses dalam sistem pembinaan melalui pengajian dan kursus.

 

Alur pembinaan dimulai dengan proses rekruitmen anggota jama’ah oleh para kader dari kalangan anggota dan simpatisan Muhammadiyah. Selanjutnya mengajak mereka mengikuti pengajian rutin dan kursus-kursus, membina dalam jama’ah, mensponsori menjadi anggota, mengikutsertakan dalam perkaderan dan pelatihan muballigh hingga akhirnya sebagian di antara mereka menjadi kader dan muballigh. Kader yang dihasilkan melakukan hal yang serupa mulai dari rekruitmen sampai menjadi kader. Kewajiban seorang kader adalah menduplikasikan dirinya kepada anggota jama’ah binaannya sehingga menjadi kader seperti dirinya. Dengan cara ini sistem pembinaan menjadi terstruktur, dilaksanakan secara bertahap, sampai menjadi pribadi yang dicita-citakan.

 

Jama’ah yang berhasil adalah jama’ah yang mampu mengantarkan anggota-anggotanya menjadi pribadi muslim yang sebenar-benarnya, dan mampu membentuk jama’ah baru.

 

Penutup

 

Basis Perwujudan Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang dicita-citakan Muhammadiyah adalah ranting. Aktualisasi dakwah di ranting dilaksanakan secara terpimpin melalui jama’ah-jama’ah, dengan kegiatan utama berupa pengajian-pengajian dan  kursus- kursus keagamaan , berbasis di masjid, mushalla, surau atau langgar. Anggota Muhammadiyah apapun jabatannya, seharusnyalah berjama’ah. Wallahu A’lam

 

oleh: Agus Sukaca[2]

sumber: http://www.muhammadiyah.or.id

[1] Tulisan ini pernah disampaikan dalam Seminar Pra Musyda yang diselengarakan oleh PDM Gresik pada tanggal 10 Januari 2011

[2]Penulis adalah Ketua Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2010 – 2015

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW (1)

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami pertihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S.Al-Israa’:1)

 

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang dialami Rasulullah pada malam 27 Rajab

tahun ke 12 kenabian, begitu luar biasanya sehingga Allah mengfirmankan ayat yang menjadi petunjuk mengenai hal tersebut dengan kata SUBHANA, sebuah ungkapan ketika melihat kejadian yang menakjubkan. Menurut imam Al Harits : Tasbih itu berfungsi sebagai bantahan yang menolak kepada orang-or-ang kafir, karena setelah nabi Muhammad SAW menceritakan kepada mereka tentang Isra’ mereka mendustakannya. Jadi artinya adalah bahwa Maha Suci Allah dari menjadikan seorang Rasul yang bohong.

 

Isra’ dan Mi’raj merupakan dua kejadian yang berkesinambungan dan kesatuan yang tidak terpisahkan. Isra’ berarti perjalanan dimalam hari sedang mi’raj adalah tangga alat naik. Peristiwa Isra’ Mi’raj bermula ketika Malaikat Jibril AS mendapat perintah dari Allah untuk menjemput Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Allah SWT. Jibril membangunkan Rasul dan membimbing-nya keluar Masjidil Haram ternyata diluar masjid telah menunggu kendaraan bernama Buraq sebuah kendaraan yang kecepatannya lebih cepat dari kecepatan rambat cahaya dan setiap langkahnya sejauh mata memandang.

 

 

Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, “turunlah dan kerjakan shalat”.

Rasulullahpun turun. Jibril berkata, “dimanakah engkau sekarang ?”

“tidak tahu”, kata Rasul.

“Engkau berada di Madinah, disanalah engkau akan berhijrah “, kata Jibril.

Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir, kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi (Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.

 

Jibril menurunkan Rasulullah dan menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasul bertanya : “Siapakah mereka ?”

“Saudaramu para Nabi dan Rasul”.

Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul melihat tangga yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidratul Muntaha.

Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihatJibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).

 

Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah membaca yang artinya : “Segala penghormatan adalah milikAllah, segala Rahmat dan kebaikan“.

 

Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya“.

Rasul membaca lagi yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh. Rasulullah dan ummatnya menerima perintah ibadah shalat“.

Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan ummatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“.

 

 

“Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.

Kemudian Rasul turun ke Sidratul Muntaha.

 

Jibril berkata : “Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya. Berbahagialah engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa kedudukan tinggi dan kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang bersyukur”.

Lalu Rasul memuji Allah atas semua itu.

 

 

Kemudian Jibril berkata : “Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampai lah disurga dengan Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah mendengar dan tidak terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan disediakan hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua itu membuat Rasul kagum untuk seperti inilah

mestinya manusia beramal. Kemudian Rasul diperlihatkan neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang subuh.

Mandapat Mandat Shalat 5 waktu

 

Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa Isra’ Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj tersebut.

Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual hubungannya dengan Allah. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian.

 

Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : “Apabila pengabdian, sholat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, Al – Qur’an 15 abad yang lalu telah menyatakan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu’ akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.

Flashwidgetz


This Flash Player was created @ FlashWidgetz.com.

Peragaan Busana Muslim (@Imtihan 2011)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.